Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Berita

Prajurit Tua dan Awak Negeri yang Pelupa: Surat Terbuka Laksda TNI (Purn) Soleman B. Ponto

245
×

Prajurit Tua dan Awak Negeri yang Pelupa: Surat Terbuka Laksda TNI (Purn) Soleman B. Ponto

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Jakarta, 12 Mei 2025. Sangkakala.my.id – Laksda TNI (Purn) Soleman B. Ponto, ST, SH, MH, CPARB, CPM, mantan Kabais TNI (2011-2013), mengeluarkan surat terbuka yang mengecam sikap negeri ini terhadap para purnawirawan TNI. Surat tersebut, berjudul “Prajurit Tua dan Negeri Pelupa: Kami Rebut, Kalian Duduki, Jangan Paksa Kami Bangkit Lagi,” mengungkapkan keprihatinan mendalam atas minimnya apresiasi dan cenderung adanya penghinaan terhadap jasa para prajurit yang telah berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Dalam suratnya yang bernada keras, Laksda (Purn) Ponto mengingatkan bahwa sejarah kemerdekaan Indonesia bukan hanya tentang diskusi di meja perundingan, melainkan perjuangan darah, keringat, dan air mata. Para prajurit, dalam berbagai bentuk kekuatan bersenjata, bukan hanya membela negara, tetapi juga menjadi pendiri de facto republik ini. Mereka merebut wilayah, menata negara, dan menjaga stabilitas di tengah kekosongan kekuasaan.

Example 300x600

Ponto menyoroti pergeseran peran militer pasca reformasi 1998, dimana militer secara sistematis ditarik dari ranah politik dan dibatasi perannya. Ia menyatakan bahwa purnawirawan TNI seringkali dianggap sebagai ancaman, dianggap ketinggalan zaman, atau bahkan difitnah sebagai kelompok yang haus kekuasaan.

“Mereka tahu mereka sudah tua. Tapi siapa bilang taring prajurit tua tidak lagi tajam?” tulis Ponto. Ia menegaskan bahwa purnawirawan bukanlah ingin merebut kekuasaan, tetapi hanya ingin mengingatkan dan memberikan peringatan atas kondisi bangsa saat ini.

Ponto menyinggung beberapa peristiwa yang menunjukkan adanya ketidakharmonisan antara pemerintah sipil dan purnawirawan TNI, seperti revisi UU TNI dan penempatan anggota TNI di Kejaksaan Agung. Ia menilai bahwa kebanyakan protes dari pihak sipil terhadap militer terkesan berlebihan sementara masalah korupsi dan ancaman terhadap negara dibiarkan begitu saja.

Surat terbuka ini diakhiri dengan peringatan keras: “Jangan paksa kami berdiri lagi hanya untuk menyelamatkan negeri dari tangan kalian sendiri.” Ponto menekankan bahwa para purnawirawan bukanlah musuh, tetapi penjaga yang siap beraksi jika panggilan tanah air datang kembali. Surat tersebut mengakhiri dengan ungkapan yang sangat tajam dan mengusik rasa nasionalisme pendukung kekuatan militer.

Surat terbuka ini pasti akan memicu perdebatan luas di masyarakat, khususnya terkait peran militer dalam demokrasi dan apresiasi terhadap jasa-jasa para purnawirawan.

Redaksi

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *