Makassar-Petirnews.net/jalan Daeng Tata raya kelurahan Bonto Duri kecamatan Tamalate kota Makassar Minggu 30 Juni 2024 sekira pukul 11.00 wita rumah Srianti alias Daeng pajja terjadi tindakan premanisme yang pelaku nya di duga adalah ‘Rahman, Dg, Naba, Haerul bersama beberapa orang anggota nya Yang lain . Rahman mengaku memegang surat kuasa.
Srianti salah satu penjual yang tinggal di pacuan kuda di ancam akan di bongkar bangunan rumah nya oleh pelaku Rahman yang biasa di panggil Dg Ramang namun daeng Pajja panggilan sehari-hari Srianti tidak mau mengikuti perintah oknum tersebut tak lama kemudian mereka memaksa dg Pajja bongkar bangunan rumah nya dan angkat semua barang-barang nya keluar
Dg Pajja di paksa keluar dari rumah nya yang sudah lama dia tempati membuka usaha bengkel dan jual masker dengan pongah nya dg Ramang menyuruh anggota nya untuk menyingkirkan kompresor ke seberang jalan di depan SPBU Pertamina sembari merusak bale-bale yang ada di depan rumah , galong dan dospun ditendang sehingga terlihat berhamburan bahkan daeng Naba memaksa masuk dalam rumah dg Pajja entah apa tujuan nya
Sempat terjadi adu mulut antara dg Ramang, Hairul, dg Naba. ‘Dengan dg Pajja ” mana Suamimu suruh keluar ! teriak dg Ramang, bongkar ini rumah mu keluar dari sini,ini bukan tempatmu gertak nya saya punya surat Kuasa dan berhak melakukan pembongkaran ucap dg Ramang . Dg Pajja pun membalas ocehan nya apapun yang kau katakan dg Ramang saya tidak akan pernah bongkar rumah ku apa dasar mu melakukan ini? tidak ada hak mu kau bukan pemilik lokasi, saya di suruh Hamzah Daeng Tutu ahli waris dari pemilik lokasi pacuan kuda untuk bangun rumah tempat usaha bengkel ucap nya jengkel sambil korban merekam video pelaku premanisme ,
Tak berselang beberapa lama Kapolsek Tamalate bersama anggota nya ada di tempat kejadian
dan meredam aksi tersebut dg Pajja yang merasa keberatan atas tindakan premanisme yang semena-mena akhirnya melaporkan para pelaku ke Polrestabes Makassar setelah kejadian
dengan nomor polisi LP/B/1208/VI/2024/SPKT/POLRESTABES Makassar/Polda Sulsel dengan dugaan tindak pidana pengrusakan UU nomor 1 tahun 1946 sebagaimana yang dj maksud dalam pasal 406 KUHP.
Warga di sekitar Dg Tata Raya risih dengan ulah para pelaku yang selalu buat gaduh setiap hari Minggu melakukan pergerakan yang mengancam para penjual untuk di palak jualan nya bahkan sebelum melakukan pembongkaran di rumah dg Pajja beberapa warung, bengkel dipasangi bambu didepan lapak mereka sehingga para penjual terhalangi untuk berjualan ada juga yang sampai sekarang belum di buka bambu nya milik salah seorang dosen
Hamzah dg Tutu merupakan ahli waris dari Nontji bin Manja masih berupa Rincik no 10 kohir. 564 C1 nomor Persil 6 tahun 1941/1946 yang mana papan bicara nya terpasang sejak 5 tahun yang lalu di dalam area Pacuan Kuda.
Sementara para penjual yang berjualan di lokasi tersebut yang telah di persewakan oleh pemilik nya Hamzah Dg Tutu juga sering mendapatkan perlakuan premanisme sehingga mereka merasa ketakutan dan terganggu akan ulah nya ‘mereka sangat bersyukur jika sudah di polisikan’ saya ingin mereka ditangkap selalu bikin ulah dan kadang menakut-nakuti kami akhirnya tidak tenang kita mencari rezeki’ungkap salah seorang penjual
Dg Ramang , Hairul serta Dg Naba merupakan saksi meringankan kan pada kasus Hamsina tentang pengeroyokan pasal 170 Yang mana sidang nya sementara berproses di pengadilan negeri Makassar Dg Ramang dan Hairul Membantah hasil visum Korban Hamsina di depan Majelis Hakim, JPU.
Hamsina anak dari Ahli Waris Hamzah Dg Tutu yang di keroyok oleh beberapa orang tak di kenal nya di lokasi pacuan Kuda .
tindakan premanisme dapat pula di kenakan pasal 368 ayat 1 KUHP jika melakukan hal-hal yang melanggar hukum pidana .
Dg Pajja juga mengatakan kalau Daeng Naba memasuki rumah nya dengan cara paksa padahal itu ada pasal nya ungkap Diana anak dari Hamzah Dg Tutu.bahkan Dg Ramang sempat menarik kerah baju nya Ashar cucu dari Hamsah Dg Tutu yang ada saat kejadian itu ,Dg Naba yang sempat memasuki rumah dg Pajja dapat di jerat
Pasal 167 ayat 1 barang siapa memaksa masuk kedalam rumah, ruangan atau pekarangan tertutup yang dipakai orang lain dengan melawan hukum dan atas permintaan yang berhak atau suruhan nya tidak pergi dengan segera di ancam pidana penjara paling lama 9 bulan.
Saya juga heran kenapa tidak mau perdatakan bapak saya jangan kami selalu di ganggu adiku Hamsina korban dari perbuatan mereka sampai harus berurusan dengan polisi tidak puas dengan itu pengontrak ku pun di ganggu terus buka saja perdata di Pengadilan kami tunggu jangan selalu masalah pidana saja. Tutur Diana kepada wartawan,
Semoga keadilan tetap ditegakkan bagi orang-orang pencari keadilan. (Ani Hasan)



















